POLITIK

Misban, A.Ma Tampilkan Identitas Budaya Sasak, Bawa Pesan Demokrasi yang Damai dan Bermartabat

Penulis: admin • Diterbitkan: 02 September 2026

Pemepek, 2 September 2026 — Menjelang pelaksanaan tahapan Pemilihan Kepala Desa Pemepek, semangat dan kesiapan para bakal calon mulai menjadi perhatian masyarakat. Salah satunya ditunjukkan oleh Misban, A.Ma, yang tampil dengan busana putih rapi dan dipadukan dengan bebet khas Sasak serta keris yang terselip di bagian pinggang.

Penampilan tersebut menghadirkan kesan sederhana namun penuh makna. Warna putih memberikan simbol ketulusan, kebersihan niat, dan harapan agar proses demokrasi dapat berjalan dengan baik. Sementara bebet Sasak dan keris menjadi representasi dari identitas serta warisan budaya yang memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Sasak. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa semangat membangun desa tidak harus meninggalkan akar budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Dalam perspektif kebudayaan, busana adat bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai dan identitas. Bebet dan keris dapat dimaknai sebagai simbol kehormatan, keteguhan, keberanian, sekaligus tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi relevan dalam konteks kepemimpinan desa, di mana seorang pemimpin dituntut tidak hanya memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, tetapi juga mampu menjaga kehormatan, persatuan, serta kepentingan masyarakat. Di tengah dinamika politik menjelang Pilkades, pesan damai dan aman menjadi hal yang penting untuk terus dikedepankan. Kontestasi politik merupakan bagian dari proses demokrasi, tetapi perbedaan pilihan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus hubungan kekeluargaan maupun menciptakan perpecahan di tengah masyarakat. Desa Pemepek memiliki modal sosial yang kuat berupa gotong royong, persaudaraan, dan budaya kebersamaan yang harus tetap dijaga.

Karena itu, semangat pencalonan tidak semestinya hanya diterjemahkan sebagai upaya untuk memenangkan sebuah kontestasi. Lebih jauh, proses tersebut harus menjadi kesempatan bagi setiap bakal calon untuk menyampaikan gagasan, visi, dan komitmen pembangunan kepada masyarakat. Masyarakat pun memiliki ruang untuk menilai calon berdasarkan kapasitas, rekam jejak, integritas, serta gagasan yang ditawarkan untuk masa depan desa.

Dalam suasana seperti ini, Misban, A.Ma tampil membawa pesan bahwa politik desa dapat dijalankan dengan cara yang santun dan bermartabat. Identitas budaya ditampilkan sebagai bagian dari kebanggaan, sementara pesan persatuan ditempatkan sebagai bagian penting dalam menghadapi tahapan demokrasi. Lebih dari sekadar simbol busana, kehadiran keris di balik bebet dapat dibaca sebagai pengingat bahwa keberanian seorang pemimpin bukanlah keberanian untuk menghadapi sesama, melainkan keberanian untuk memikul tanggung jawab, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta mengambil keputusan yang berpihak pada kemajuan desa. Pilkades pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak. Ia merupakan bagian dari proses menentukan arah perjalanan desa untuk beberapa tahun ke depan. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat menjaga suasana tetap kondusif, menghormati perbedaan, dan memberikan ruang yang sehat bagi setiap calon untuk menyampaikan gagasan.

Pemepek membutuhkan demokrasi yang dewasa: berbeda pilihan tanpa bermusuhan, berkompetisi tanpa saling menjatuhkan, dan memenangkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. “Berbeda pilihan adalah keniscayaan dalam demokrasi. Namun persaudaraan adalah warisan yang harus kita jaga.” Misban, A.Ma — menjunjung adat, menjaga persaudaraan, dan membawa semangat membangun Pemepek dalam suasana damai, aman, dan bermartabat.